Mengapa Employee Burnout Berbahaya Bagi Bisnis Anda

Employee Burnout, sebuah topik yang sedang hangat dibahas, bukan hanya masalah personal karyawan. Tetapi juga masalah organisasi yang dapat membuat perusahaan merugi.

Sebuah artikel bisnis terhangat di Forbes mengatakan bahwa lebih dari setengah pegawai di tahun 2021 (52%) mengalami apa yang dinamakan employee burnout. Sementara hasil survey dari FlexJobs mengatakan bahwa di era pandemi, employee burnout meningkat hingga 75%. 


Employee Burnout, sebuah istilah yang sebenarnya tidak baru, sepertinya mengalami kenaikan trend di era pandemi seperti sekarang. Beragam artikel dan survey yang membahas mengenai fenomena ini mulai bermunculan dimana-mana. 


Lantas apa sebenarnya yang dimaksud dengan Employee Burnout?


Menurut Mayo Clinic burnout adalah keadaan lelah secara fisik dan emosional yang mengakibatkan turunya minat dan passion terhadap segala sesuatu yang dikerjakan seseorang. Dari luar, seorang pekerja yang sedang mengalami burnout dapat terlihat seperti kurang bersemangat, malas-malasan, sering mengantuk, dan lain-lain. 


Berbeda dengan sifat malas yang memang sudah jadi kebiasaan, burnout dapat menyerang karyawan-karyawan produktif jika tidak diatasi dengan baik. Bahkan menurut studi yang dilakukan oleh Universitas Cambridge, pekerja yang masuk dalam kategori high performer justru memiliki risiko mengalami burnout lebih tinggi dibandingkan dengan karyawan dengan performa biasa saja. 


Employee burnout juga seringkali bukan terjadi akibat masalah personal seorang karyawan, namun lebih sering disebabkan oleh masalah organisasional, seperti workload karyawan yang berlebih, kompensasi yang tak sesuai dengan pekerjaan, suasana kerja yang tak menimbulkan rasa nyaman, atau khusus di era pandemi seperti sekarang, rasa terkukung dan isolasi yang dirasakan oleh karyawan yang bekerja dari rumah. 


Jika permasalahan employee burnout tidak segera diatasi, bukan tak mungkin organisasi atau perusahaan Anda akan mengalami risiko kerugian seperti di bawah ini:

1. Produktivitas Akan Menurun

Employee Burnout yang tidak teratasi dapat berdampak negatif pada produktivitas suatu bisnis. Dari riset yang dilakukan Social Market Foundation, karyawan yang gembira dan tidak mengalami burnout memiliki tingkat produktivitas yang  20% lebih tinggi. Bahkan khusus untuk karyawan sales, peningkatan kebahagiaan dapat berdampak pada peningkatan penjualan hingga 37%. 


Itu artinya, sebuah bisnis dapat kehilangan potensi produktivitas dan penjualan karena employee burnout yang tidak teratasi. 


2. Turnover Rate yang Tinggi

Saat karyawan resign, maka perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk mencari dan melatih pengganti karyawan tersebut. Sebuah riset dari Center for American Progress mengatakan bahwa sebuah perusahaan dapat mengeluarkan biaya antara 16% hingga 213% dari jumlah gaji seorang karyawan hanya untuk mencari pengganti karyawan tersebut. 


Karena itu sebuah perusahaan akan berusaha sebisa mungkin mengurangi turnover rate atau tingkat perputaran karyawannya untuk menekan biaya operasional untuk mencari dan melatih karyawan baru. Karyawan yang mengalami burnout akan lebih mungkin untuk resign dari tempat kerjanya dibandingkan dengan karyawan yang bahagia. 


Bahkan sebuah riset yang dilakukan Kronos menyatakan bahwa burnout menjadi penyebab signifikan turnover rate yang meningkat, antara 20% hingga 50%, dibandingkan dengan penyebab lainnya.

3. Kesehatan Karyawan 

Sudah bukan rahasia lagi bahwa karyawan yang sehat memiliki produktivitas yang jauh lebih baik dibandingkan dengan karyawan yang sakit. Namun saat mengalami burnout karyawan memiliki kecenderungan sakit jauh lebih tinggi dibandingkan dengan karyawan yang bahagia. 


Bahkan sebuah riset yang dilakukan oleh Harvard mengatakan bahwa di biaya yang dihabiskan perusahaan setiap tahun untuk menutupi biaya kesehatan akibat employee burnout mencapai 190 Miliar Dolar. 


Itulah risiko yang dapat dihadapi sebuah perusahaan akibat employee burnout yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, perusahaan harus mulai menganggap employee burnout sebagai masalah valid yang dapat menurunkan performa bisnis mereka, bukan hanya sekedar kemalasan karyawan yang tak ada hubunganya dengan bagaimana sebuah bisnis beroperasi. 


Sebuah perusahaan harus sebisa mungkin menjaga lingkungan dan iklim kerja karyawan sebaik mungkin agar permasalahan employee burnout dapat lebih ditekan sehingga produktivitas karyawan secara keseluruhan dapat tetap dijaga atau bahkan meningkat. 

CATAPA © 2021. All Rights Reserved